Rumah Susun Mariso, Wajah Pemukiman Makassar Masa Depan

Penulis: Azwar Radhif
Editor: Muhammad Fauzy

Rumah Susun Mariso. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Rumah Susun Mariso. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Dengan bertambahnya kepadatan penduduk Kota Makassar sepanjang tahunnya, nampaknya kehadiran rumah susun dapat menjadi jalan tengah untuk menyelesaikan problematika ini. 

Kepadatan penduduk terus membayangi Kota Makassar. Kota dengan luas teritori sebesar 175,77 Km², pada tahun 2017 dipadati penduduk sebesar 1.489.011 jiwa. Jumlah penduduk yang tergolong cukup besar ini akan sebanding dengan kebutuhan lahan sebagai tempat tinggal. Namun letak problemnya adalah apakah ketersediaan lahan di Makassar cukup untuk menampung jumlah penduduk yang semakin bertambah setiap waktunya?.

Permasalahan ini semestinya menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan kota Makassar. Terlebih lagi ini merupakan amanat dari SDGs, sebagai bentuk pembangunan berkelanjutan yang menekankan kota tanpa kumuh. Keterbatasan lahan yang tak seimbang dengan kebutuhan jumlah penduduk akan menciptakan berdirinya bangunan yang sempit dan berdempetan. Kekhawatiran yang muncul adalah perkembangan penyakit dan akses terhadap kebersihan yang sulit.

Selain itu, terdapat persaingan penguasaan lahan di kota yang nampaknya menjadi problem tersendiri. Harga tanah yang semakin melambung dan biaya hidup yang besar seolah memarginalkan akses masyarakat kecil terhadap ruang. Ruang menjadi terbatas bagi segelintir masyarakat yang berkemampuan secara finansial. Sementara, Kota merupakan public space yang mestinya dapat dinikmati oleh siapapun juga.

Beragam permasalahan Kota Makassar diatas nampaknya telah disadari Pemerintah Kota, melalui pengadaan Rumah Susun Sederhana. Rumah susun merupakan salah satu program untuk mengatasi masalah keterbatasan ruang dan kelayakan hidup bagi masyarakat ekonomi kebawah. Rumah susun dianggap dapat menjadi alternatif tersendiri dari problem kehidupan masyarakat ekonomi kecil.

Rumah Susun Masa depan Kota Makassar. Foto by Azwar Radhif/maupa.co
Rumah Susun Masa depan Kota Makassar. Foto by Azwar Radhif/maupa.co

Rumah Susun Mariso terletak di jalan Rajawali, Kecamatan Mariso Kota Makassar. Pembangunan Rusun telah berlangsung sejak 2005 silam, hingga kini berbagai perbaikan telah di lakukan untuk membenahi kelayakan hunian. Rusun Mariso terdiri dari dua lokasi yang bersebelahan dan terpisah oleh kanal Rajawali dan memiliki 6 bangunan per lokasinya. Di setiap bangunan, terbagi atas 4 lantai, dimana parkiran sebagai lantai dasarnya.

Mayoritas penghuni rusun adalah pekerja yang tinggal berkeluarga dengan pekerjaan yang beragam. Seperti yang dirasakan Frenki, penghuni rusun yang telah menetap sejak 11 tahun lalu. Sehari-harinya dia bekerja sebagai ahli reparasi AC. Frenki hidup bersama keluarganya dalam ruangan yang sederhana. Dalam ruangan terdapat 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu, dapur, dan ruang jemuran.

Baca juga: Reklamasi, “Petaka” Nelayan dan Ekosistem Laut Takalar-Makassar

Kesederhanaan tinggal dalam bangunan bersama puluhan keluarga nampaknya bukan menjadi penghalang Frenki untuk bertahan. Hal ini juga tak lepas dari biaya sewa rusun yang menurutnya cukup terjangkau. Frenki menjelaskan, “Disini bayar perbulan, saya bayar ongkos sewanya perbulan. Terus listrik sama air. Listrik dengan air itu kan tergantung berapa besar pemakaian kita. Kalau perbulan saya disini ongkos sewanya itu 125.000 perbulan,” jelasnya.

Biaya pengeluaran sewa ini dinilai cukup terjangkau untuk dapat bertahan hidup di Kota Makassar. lebih lanjut ia menjelaskan, “Saya rasa itu untuk hitungan orang tinggal di kota cukup lumayan lah. Kayak-kayak kita hidup orang kecil sudah bisa teratasi lah, daripada saya harus hidup kos atau kontrak, lebih mahal,” ujarnya.

Deretan Rumah Susun Mariso dari kejauhan. Foto by Azwar Radhif
Deretan Rumah Susun Mariso dari kejauhan. Foto by Azwar Radhif

Selain itu, hubungan komunikasinya dengan masyarakat sekitar Rajawali juga menurutnya cukup bagus. Terlebih lagi istrinya berprofesi sebagai pekerja di salah satu sekolah dasar di sekitar Rajawali. Terjadi pola hubungan saling membutuhkan antara penghuni rusun dengan masyarakat sekitar rusun. Seperti yang dijelaskan penjaga warung makan di depan rusun yang sehari-harinya mendapatkan pelanggan dari penghuni rusun. Interaksi yang terbangun tak memandang kesukuan ataupun agama tertentu, melainkan pola kebutuhan hidup.

Namun, sepertinya pemerintah perlu menaruh perhatian pada fungsi kanal di sepanjang Rajawali. Kelayakan kebersihan rumah susun dan masyarakat Rajawali nampaknya tak sejalan dengan kebersihan kanal yang berada di sekeliling rumah susun ini. Selain itu, masyarakat sekitar kanal juga mengeluhkan kebersihan kanal ini, hal ini yang kiranya dapat menjadi perhatian lebih, terutama mewujudkan Makassar sebagai Kota aman bagi kehidupan masyarakatnya.

Baca juga: Permasalahan Kanal Kota Makassar, Mengalihkan Fungsi Kanal Yang Sebenarnya

Kehadiran rumah susun (rusun) dapat menjadi solusi problematika pertambahan penduduk Kota Makassar. Terutama terkait dengan akses dan kelayakan hunian bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah. Keberadaan rumah susun dapat menjadi penyeimbang bagi ketersediaan ruang terbuka hijau. Karena pembangunan perumahan rusun ini menggunakan lahan yang tidak terlalu luas. Sehingga, akses masyarakat terhadap ruang terbuka hijau dapat berimbang dengan pemukiman.

Follow us
maupa

maupa

Kehidupan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *