Sepak Bola adalah Pertunjukan Dua Rasa

Penulis: Wahyuddin Junus (Pegiat Literasi Sepakbola)

 

PSM Makassar. Property by @PSM_Makassar
PSM Makassar. Foto by @PSM_Makassar

Drama akan tersaji di setiap gocekan dan momen emosional pada laga PSM Makassar Vs PSIS Semarang, malam ini pukul 18.30 WIB (27/11), pekan ke-29 Liga 1. Lapangan menjadi panggung pementasan skill para pemain, seperti drama dalam sebuah naskah.

maupa.co – Dalam kehidupan, rotasi waktu menjadi keniscayaan. Perjalanan waktu akan dicapai dalam dua skema: kita menjalani waktu yang ada dan sekaligus mendatangi waktu yang akan kita tuju. Dua (2) skema inilah yang mengantar saya dan penggila bola Indonesia untuk menyaksikan PSIS Semarang kontra PSM Makassar. Saat-saat seperti inilah, kesadaran akan si kulit bundar digerakkan dalam laga lanjutan Liga 1 2019 pekan ke-29.

Bertindak sebagai tuan rumah, PSIS Semarang akan menjamu PSM Makassar, Rabu (27/11/2019). Pertandingan kedua tim akan disiarkan secara langsung oleh Indosiar mulai pukul 18.30 WIB menjadi pijakan hitung mundur perjumpaannya di Stadion Moch Soebroto Magelang.

Layaknya kehidupan, pertandingan sepakbola terpampang dinamika dan dipenuhi ketidakpastian. Drama di lapangan hijau menjadi manifestasi yang berharga bagi pemain dan juga penonton. Ia menjadi sematan rasa ‘kopi pahit’ atau ‘teh manis’ dalam pertunjukan 2 x 45 menit. PSM era Ramang cs pernah merasakan dua rasa itu.

Cerita ini bermula, pasca lawatan di Bandung (1959) PSM menderita kekalahan dua kali berturut-turut. Setelah kembali di Makassar, maka semua pengurus dan pemain-pemain PSM yang ikut lawatan dikumpulkan. Tanpa tedeng aling-aling, Gubernur Sulawesi Andi Pangerang melontarkan “kopi pahit” dan “Lombok pedas” kepada pimpinan PSM.

Seakan-akan kekalahannya waktu itu serba misterius menurut pendapat publik Makassar. Andi Baso Amier menuliskan kisah itu dalam buku ‘PSM, Bintang Lapangan Hijau’.

Dengan pengalaman pahit tersebut di atas, PSM dalam kurun 1915-1961 dapat dikatakan sebagai periode menikmati ‘teh manis’ dari tim ‘Juku Eja’. Dalam rentang 1957-1959, PSM menjadi juara dua kali berturut-turut dalam kejuaraan PSSI.

Sejarah PSM Makassar. Property by infosulsel.com
Sejarah PSM Makassar. Foto by infosulsel.com

Momen kedatangan PSM sebagai duta-duta sepakbola, saat merebut kehormatan PSSI yang kedua kalinya disambut bak pahlawan dari peperangan. Lapangan terbang MANDAI ketika itu berbunga manusia dan penuh sesak oleh mobil bak terbuka. Menanti kedatangan PSM dari Jakarta yang diiringi penghormatan yang setinggi-tingginya.

A.Baso Amir menyandingkan kemeriahannya saat rakyat Kota Rio de Janeiro menyambut kesebelasan. BRAZILIA saat keluar juara dunia FIFA tahun1958. Kota Besar Makassar  (KBM) menyambut dengan meriah atas kedatangan duta-duta sepakbola, setelah PSM merebut kehormatan PSSI yang kedua kalinya.

Baca juga: BANGUN TRADISI LITERASI SEPAKBOLA MAKASSAR

Dua rasa yang tersaji dalam jejak perjalanan PSM dapat dikatakan penuh dengan emosional. Pentingnya untuk memahami sikap pesepakbola dengan kesungguhan dan coba memelihara harapannya. Motivasi terkadang bergerak melintasi batas dan memenangkan sesuatu dalam hidupnya.

Melawan diri sendiri, bisa menjadi jalan yang tepat untuk melakukan tarian hidup di sebuah arena. Tempat lain dalam barisan penonton, dimana orang-orang bersorak, tertawa dan bersukacita karena telah memenangkan sesuatu dalam hidupnya.

Fanatisme supporter PSM Makassar. Property by @PSM_Makassar
Fanatisme supporter PSM Makassar. Foto by @PSM_Makassar

Ya, drama-drama perebutan bola dan fanatisme penonton di pinggir lapangan, selalu saja memberi kita banyak hal. Bukan saja aksi-aksi spektakuler gerak tubuh sang pesebakbola yang menggetarkan jala gawang, tetapi juga banyaknya kesempatan yang tak berbuah gol. Justru kian dewasakan kita akan makna hidup.

Sepakbola adalah drama hidup yang terjalani. Sementara saya hanya bisa menonton dan menyaksikan PSM lewat layar TV Rabu (27/11) malam. Secangkir kopi atau pun teh manis pantas dihadirkan. Kita pun dapat menciptakan rasa sejak dini.

 

Editor: Muhammad Fauzy

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *