SMKI: Jejak Digital Tentang Sebuah Kreatifitas

Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Gowa merupakan sekolah menengah atas yang mewadahi pendidikan kesenian daerah khususnya musik karawitan. Penulis mencoba mengeksplor perjalanan sekolah seni ini bersama perjuangan para seniman didalamnya.  

Maupa.co – Terletak di Kabupaten Gowa, daerah yang menjadi pusat kebudayaan Makassar, sebuah ruang belajar dengan basic kesenian berdiri tegak. Adalah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia yang dikenal sebutan SMKI, sekolah yang mencetak beberapa pekerja seni bahkan seniman disetiap periodenya. Hingga saat ini, para pekerja seni atau seniman keluaran sekolah ini tersebar di berbagai wilayah Nusantara, dari Sabang sampai Merauke.

Sejak berdirinya pada tahun 1972 hingga saat ini, berdasarkan SK pendidikan dan kebudayaan RI No.0292/O/1972, berbagai macam lulusan telah dicetak dari jurusan dengan basic kesenian yang berbeda. Jurusan yang dimaksud terdiri dari teater, tari, musik dan karawitan. Ada yang berprofesi sebagai seniman, pekerja seni, dan tenaga pengajar. Salah satu contohnya adalah tokoh Gendang Makassar, Hasan Daeng Ramma. Beliau merupakan musisi sekaligus pembuat gendang dan alat musik tradisi Makassar lainnya.

Kini, SMKI telah berubah nama dari sebelumnya SMK Negeri 1 Somba Opu berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.036/O/1997, menjadi SMK Negeri 2 Kabupaten Gowa.

Gambar Depan SMKI

Kendati demikian, perubahan nama tidak menyurutkan semangat para siswa untuk selalu kreatif dan produktif. Seperti yang telah dilalui beberapa tahun terakhir, yakni pada tahun 2018 diselenggarakan forum bertajuk “Forum Sinergi Attahuru Alumni-siswa”. Forum ini diinisiasi oleh Misbach Daeng Bilok, Aristofani dan Tasmin Andika K. Mereka adalah alumni SMKI Ujung Pandang jurusan Karawitan yang bermukim di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Menurut Misbach, “apa yang kita lakukan di SMKI sebagai sekolah kejuruan, esensinya adalah bagaimana kalian bergerak, mampu berkarya, dan mampu berbuat bukan mampu bergaya di sekolah”, tuturnya.

Berdasarkan diskusi tersebut, misbach mengajak seluruh siswa yang hadir untuk selalu kreatif dalam menciptakan produktivitas. Berdasarkan hal tersebut, hari-hari ini siswa dipacu untuk selalu kreatif dalam meramu sebuah komposisi karawitan setempat sebagai sebuah karya.

Berkaitan dengan hal di atas, penulis sebagai salah satu alumni SMKI Ujung Pandang mendorong kembali peserta didik untuk melanjutkan wadah sinergitas, dengan memacu kreatifitas dalam komposisi kekaryaan.

Forum sinergi attahuru alumni-siswa 2018

Melalui tema attahuru yang telah berlangsung pada tahun 2018. Saya kembali mendorong peserta didik untuk kembali berkarya dengan meramu komposisi bunyi berdasarkan kreatifitas yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Hal ini menjadi semangat baru peserta didik untuk mencoba belajar meramu bunyi berdasarkan pemahaman yang dimiliki.

Seperti yang diketahui hari-hari ini, pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan bagi para siswa dalam melakukan produktifitas, bahkan untuk belajar sebagaimana mestinya. Dilain sisi, sejak bulan Mei, para siswa seharusnya telah melakukan Prakerin di Sanggar Seni sebagai aplikasi ilmu yang didapatkan di sekolah, sekaligus sebagai pengalaman baru. Karena itu, dengan adanya sebuah gerakan attahuru ini akan kembali menjadi spirit bagi mereka untuk selalu produktif.

Menurut Nurhadi selaku alumni SMKI Ujung Pandang, attahuru ini berasal dari Suku kajang yang menginspirasi dirinya dalam menciptakan sebuah karya. Berdasarkan informasi yang didapatkan kala itu, Attahuru adalah upacara pensucian diri yang terdapat di Masyarakat Suku Kajang. Sehingga Nurhadi menyimpulkan bahwa Attahuru ini adalah kejernihan Hati. Selain itu, menurut Laylatun Nafi’ah Ahmad “kata attahuru berasal dari kata Attaharah yakni Bersuci dari hadast kecil dan hadast besar” ujarnya.

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa attahuru adalah sebuah perenungan masyarakat Sulawesi Selatan. Kata ini dijadikan spirit dari perenungan peserta didik untuk menanggapi kenyataan dalam bentuk karya musik karawitan setempat. Salah seorang peserta didik kelas XII jurusan Karawitan menuturkan, “konsep ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa untuk kami” ujarnya.

 

Penulis : Ahmad Ishak Jundana
Editor : Azwar Radhif
Fotografer : Ahmad Ishak Jundana

Follow us
Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *