Sosok Gus Dur di Mata Masyarakat Indonesia Keturunan Tionghoa

Penulis: Azwar Radhif

Gus Dur. Foto: Gusdur.net

Mendengar sebutan nama Gus Dur, yang terbersit di pikiran kita adalah tokoh toleransi beragama di Indonesia. Kisahnya tak lekang oleh masa, selalu jadi inspirasi dan penyemangat kepada kelompok gerakan toleransi beragama.

maupa.co – Belakangan ini, pembicaraan media sosial seolah menggiring kita kedalam wacana anti-Tionghoa. Dalih ketimpangan ekonomi, wacana anti-asing dsb kemudian menggeneralisasi seluruh masyarakat sebangsa keturunan Tionghoa. Akibatnya, muncul sentimen rasisme di masyarakat yang berujung pada narasi intoleran.

Kota Makassar juga punya kisah kelam dari sentimen ini. Amran Razak dalam  Demonstran dari Lorong Kambing (2015), mengulas singkat gelombang kerusuhan masyarakat Makassar yang dikenal dengan istilah Tragedi Toko La’. Kejadian pengganyangan Tionghoa ini terjadi di tahun 1980. Kejadian ini bermula dari pekerja sebuah toko dihamili dan dibunuh oleh pemilik tokonya yang kebetulan seorang keturunan Tionghoa. Kasus ini kemudian digiring ke sentimen etnis, berujung pembakaran toko-toko yang dimiliki keturunan Tionghoa.

Namun, sentimen ini sebenarnya telah jauh terbangun pada tahun-tahun sebelumnya. Beberapa tokoh mengindikasikan ini berkaitan erat dengan tragedi G30SPKI. Kedekatan Indonesia dengan RRC yang disinyalir menganut ideologi komunisme, melahirkan stigma bahwa seluruh keturunan Tionghoa adalah komunis. Awal mula benih-benih kebencian ini muncul.

Baca juga: PAHLAWAN DIBALIK KEINDAHAN HUTAN INDONESIA

Soeharto pada masa pemerintahan Orde Baru,  pernah mengeluarkan Instruksi Presiden No.14/1967 yang mengatur tentang kehidupan beragama masyarakat Tionghoa. Inti dari Instruksi ini adalah himbauan kepada keturunan Tionghoa agar tidak melaksanakan ibadahnya di depan publik atau secara terbuka. Asumsi dasarnya adalah budaya Tionghoa yang tidak wajar dan menghambat asimiliasi masyarakat Indonesia.

Melalui instruksi ini, segala aktifitas sosial-keagamaan masyarakat Tionghoa harus dilakukan di Internal keluarga secara sembunyi-sembunyi. Berdasar pada pertimbangan asumsi, terjadi pembredelan kegiatan keagamaan yang sejatinya merupakan hak seluruh bangsa Indonesia.

Kekerasan Terhadap Warga Tionghoa. Sumber: perpustakaan online Genosida 1965-1966.

Kisah Inspiratif Perjuangan

Ada kisah menarik di balik perjuangan penghapusan diskriminasi rasial yang dialami masyarakat Tionghoa. Segala keleluasaan akses masyarakat keturunan Tionghoa yang dirasakannya, tak bisa dilepaskan dari peran sosok Gus Dur. Sosok Gus Dur merupakan salah satu tokoh agamawan yang sangat mengedepankan toleransi beragama. Dirinya tak akan tenang apabila masih ada umat beragama yang tidak diperbolehkan menjalankan ritual beragamanya.

Kisah inspiratif ini dimuat dalam Damien Dematra (2010) Sejuta Doa Untuk Gus Dur. Dikisahkan, ada sepasang suami-istri yang hendak menikah, tapi tak direstui oleh aparatus negara karena Agama Konghucu tak masuk agama yang diakui. Salah satu tokoh Klenteng, Bingky Wirawan mencoba memperjuangkannya, namun dirinya merasa membutuhkan bantuan dari sosok ulama toleran, Gus Dur.

Baca juga: ANDI MATTALATTA, MEMILIH NASIONALIS KETIMBANG JADI BUDAK BELANDA

Gus Dur mulanya menyarankan Bingky untuk menempuh jalur letigasi, persidangan. Namun sejak persidangan awal hingga tahun-tahun menjelang reformasi, masalah ini tak kunjung selesai. Barulah sejak Gus Dur diamanahkan sebagai presiden, perlahan keadilan mulai dirasakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa.

Gebrakan awal yang dilakukannya adalah menghapus Instruksi Presiden No.14/1967 yang membatasi aktifitas keagamaan masyarakat keturunan Tionghoa. Kemenangan kecil yang dirasakan masyarakat tionghoa setelah berpuluh-puluh tahun hidup dalam tekanan.

Tribute Gus Dur dalam Perayaan Imlek. Foto: intersisinews.com

Gus Dur juga yang pertama melegalkan perayaan imlek di muka umum. Ini berdasarkan permintaan Bingky untuk merayakan imlek bersama. Gus Dur meresponnya dengan mengadakan imlek di dua tempat secara terbuka, yaitu di Surabaya dan Jakarta. Sontak hal ini memancing reaksi masyarakat, ulama besar NU yang ikut merayakan Imlek bersama.

Hingga kini, gagasan dan perilaku toleran Gus Dur masih diamalkan. Rasa-rasanya beliau akan terheran-heran melihat masyarakat kini. Seolah pola pikir masyarakat kembali ke masa-masa orde baru. Salah satu alternatif pola pikir adalah pola pikir melihat masalah terlepas dari unsur Sara, termasuk etnis dan/atau ras. Logikanya sederhana, meskipun mahasiswa identik dengan demonstrasi, tapi tak semua mahasiswa itu mengiyakan tindakan kekerasan. Terdapat motif juga yang melahirkan tindakan itu. Demikian pula cara pandang melihat saudara sebangsa keturunan Tionghoa.

Editor: Ilham Alfais

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *