“Suaka Laut Terancam!” Greenpeace Dorong Pemerintah Aktif Dalam Perjanjian Laut Internasional”

Penulis: Muhammad Fauzy

Aksi Damai "Seruan aktif menjaga lautan" oleh Greenpeace Indonesia di Anjungan Pantai Losari Kota Makassar,Sulawesi Selatan (09/02). Foto by Muhaimin
Aksi Damai “Seruan aktif menjaga lautan” oleh Greenpeace Indonesia di Anjungan Pantai Losari Kota Makassar,Sulawesi Selatan (09/02). Foto by Muhaimin

Satwa laut menjadi korban dari aktifitas buruk manusia di lautan. Greenpeace memandang pemerintah sangat penting menjaga laut, salah satunya dengan menjalin jaringan suaka lautan.

maupa.co – Pada awal tahun 2020, Greenpeace Indonesia melakukan aksi damai di beberapa kota. Tercatat tujuh kota menjadi wadah aksi damai itu, yaitu Jakarta, Makassar, Bandung, Pekanbaru, Semarang, Yogyakarta dan Padang. Aksi itu dilangsungkan di sejumlah ikon kota masing-masing.

Para perwakilan negara rencananya akan bertemu di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membahas perjanjian Laut Internasional (Global Ocean Treaty) tersebut pada akhir maret. Greenpeace memandang bahwa jaringan suaka lautan sangat penting demi keberlangsungan kehidupan.

Will McCallum dari kampanye Protect the Oceans Greenpeace, mengatakan, “Populasi penguin menghilang secara nyata. Baru-baru ini di Antartika, kami melihat beberapa koloni penguin sangat menderita, dengan beberapa populasi anjlok secara signifikan. Perubahan iklim, polusi plastik, dan industri penangkapan ikan membunuh lautan kita, dan kini jutaan orang mendesak pemerintah kita untuk melindunginya.”

Tidak hanya itu, dia melanjutkan, “Enam dari tujuh spesies penyu menghadapi kepunahan. Jutaan hiu terbunuh oleh industri penangkapan ikan setiap tahun. Kita pun seringkali menemukan perut paus penuh sampah plastik. Lautan kita menghadapi ancaman yang besar. Pemerintah harus segera membuat cagar alam yang aman bagi satwa liar untuk pulih dari ancaman yang mereka hadapi, dan untuk itu mereka harus terlebih dahulu menyepakati Perjanjian Laut Internasional di PBB tahun ini.”

Di bumi nusantara sendiri, telah banyak satwa laut yang ditemukan terdampar akibat pencemaran tumpahan minyak ataupun sampah plastik yang membludak. Praktik penangkapan ikan dengan tidak memperhatikan aspek ekologi juga masih banyak dilakukan. Oleh karena itu, Greenpeace terus aktif dalam menjaga laut yang sehat, salah satunya dengan kampanye #SaveSpermonde. Kampanye ini berisikan pesan agar menghapus praktik penangkapan ikan yang tidak memperhatikan keberlangsungan ekosistem.

Pinguin, ikon Perjanjian Laut Internasional. Foto by Muhaimin
Pinguin, ikon Perjanjian Laut Internasional. Foto by Muhaimin

Tak hanya di Indonesia, Greenpeace di sejumlah Negara juga melakukan aksi damai serupa, seperti London dan Afrika Selatan. Aksi tersebut juga dimeriahkan dengan pahatan es berbentuk penguin yang diarak hinggal meleleh. Pahatan es berbentuk penguin tersebut mengandung pesan tentunya kepada pemerintah tentang dampak perubahan iklim terhadap satwa laut. Pinguin sendiri adalah ikon utama Perjanjian Laut Internasional.

Tim maupa.co juga merangkum informasi mengenai pentingnya penguin. Pernahkah anda menonton serial film Happy Feet yang diproduksi oleh Warner Bros?. Yah film tersebut menceritakan tentang kehidupan pinguin yang terusik akibat ulah manusia. Dalam film tersebut diceritakan manusia dalam hal ini pemerintah tersadar akan penangkapan ikan secara besar-besaran, dan para penguin pun akhirnya kekurangan makanan. Ada hal yang menarik dari hewan jenis burung tersebut. Penguin ternyata bisa jadi indikator seberapa sehat samudra. Binatang jenis burung tersebut memegang peranan penting bagi keanekaragaman flora dan fauna. Tak hanya itu, penguin juga menjadi indikator pembawa pesan dampak iklim di masa depan. Sudah saatnya manusia tidak mengabaikan lagi suaka laut yang juga memiliki peranan penting dalam kehidupan.

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *