Tambak Krisis, WWF Indonesia dan Uts Tanam Mangrove di Kampung Nelayan Maros

Penulis: Abdul Khalik

UTS tanam manggrove di Kampung Nelayan, Maros. Property by Dokumen UTS dan WWF Indonesia
UTS tanam manggrove di Kampung Nelayan, Maros.Foto by Dokumen UTS dan WWF Indonesia

Hutan mangrove Indonesia rusak seluas 1,81 juta hektare. Khusus di Provinsi Sulawesi Selatan, kerusakan hutan mangrove mencapai 23.707, 3 hektare. Merespon kerusahakan hutan mangrove ini, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia bersama Universitas Teknologi Sulawesi  (UTS) Makassar melakukan penanaman Mangrove di Maros.

maupa.co – Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menunjukkan bahwa hutan mangrove Indonesia yang masih dalam kondisi baik sekitar 1,67 juta hektare.  Sedangkan kerusakan mangrove seluas 1,81 juta hektare dan ketidakberhasilan rehabilitasinya lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia (republika.co.id).

Sementara itu, di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), kerusakan hutan mangrove seluas 23.707,3 hektare. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Litbang dan Inovasi Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar mempublikasikan, berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014 luas mangrove di Sulsel mencapai 28.945,3  hektare tapi hanya 5.238 hektare yang masih masuk dalam kategori baik sisanya dalam kondisi rusak (balithutmakassar.org).

Respon positif terhadap kerusakan hutan mangrove ini datang dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia dan Universitas Teknologi Sulawesi  (UTS) Makassar. Wujud respon positif ini dibuktikan dalam kegiatan penanaman 3000 bibit pohon mangrove di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, pada Rabu (28/11/19). Kegiatan ini merupakan rangkaian program WWF Indonesia dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UTS 2019. Penanaman mangrove ini bertema,”Pesisirku Hijau, Bumiku Hijau”.

Baca juga: KEBAKARAN HUTAN DI GUNUNG BAWAKARAENG-LOMPOBATTANG

Panitia kegiatan yang juga peserta KKN UTS, Firman, menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove ini bertujuan untuk mendukung dan memotivasi masyarakat nelayan dalam gerakan penghijauan kawasan pesisir.

Penanaman manggrove oleh WWF Indonesia dan UTS. Property by Dokumen UTS dan WWF Indonesia
Penanaman manggrove oleh WWF Indonesia dan UTS. Foto by Dokumen UTS dan WWF Indonesia

Kawasan Bontoa merupakan pusat pemukiman nelayan dan petani yang memiliki lahan tambak cukup luas. Namun, sebagian besar lahan tambak di kawasan ini terancam tidak  berproduksi karena kualitas air pesisirnya yang mulai tercemar. Oleh karena itu, kegiatan mahasiswa KKN ini merupakan upaya nyata menciptakan keberlanjutan lingkungan pesisir dengan menanam mangrove.

“Mangrove dapat dapat mereduksi bahan-bahan kimia yang mencemari air untuk kebutuhan tambak di pesisir. Benteng dari abrasi yang disebabkan ombak dan menjadi habitat aneka ragam binatang laut yang menjaga rantai kehidupan di pesisir”, jelas Firman.

Baca juga: PAHLAWAN DIBALIK KEINDAHAN HUTAN INDONESIA

Pendapat senada dikemukakan Staf Akuakultur WWF Indonesia, Idham Malik. Menurutnya, kawasan tambak di Bontoa ini merupakan daerah yang rawan berproduksi, khususnya untuk budidaya udang. Karena kualitas air pesisir yang banyak mengandung timbal. Selain itu, proses budidaya di tempat ini sebelumnya, kurang memperhatikan lingkungan budidaya yang berkelanjutan karena memproduksi banyak limbah nitrat dan phospor berlebihan. Penanaman Mangrove dapat mereduksi proses daur ulang kebutuhan air untuk tambak tersebut. “Karena itu, kami sangat mendukung kegiatan adik-adik mahasiswa KKN UTS di Bontoa ini,” terangnya Idham.   

Krisis Manggrove. Penanaman manggrove oleh WWF Indonesia dan UTS. Property by Dokumen UTS dan WWF Indonesia
Krisis Manggrove. Penanaman manggrove oleh WWF Indonesia dan UTS. Foto by Dokumen UTS dan WWF Indonesia

Terkait penanaman mangrove di Bontoa, Ketua Panitia KKN UTS 2019, Zainal Gunawan menjelaskan bahwa mahasiswa KKN UTS sengaja memilih lokasi kegiatan di desa-desa nelayan. Menurut Zainal, selain sebagai kegiatan reguler Tri Dharma perguruan tinggi, KKN ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa sebagai tenaga pemberdayaan.

Mahasiswa KKN UTS 2019 diharapkan hadir sebagai pemberi solusi melalui ide-ide inovatif dan kreatif untuk memberi solusi alternative terhadap kesulitan masyarakat.

“Apalagi mereka generasi milenial. Gerakan kembali ke tengah masyarakat desa ini tidak kalah pentingnya dengan bisnis startup yang sepertinya menjadi orientasi semua generasi milenial sekarang ini. Lebih khusus lagi masyarakat nelayan, dibanding petani atau masyarakat agraris, masyarakat nelayan memiliki masalah yang lebih kompleks dari sisi sosial dan ekonomi,” kunci Zainal.

 

Editor: Muhammad Fauzy

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *