UKM Seni Budaya eSA Menggelar Ajang Musik Kebudayaan (AMUK): “Menepuk Jalan Sunyi”

Pagelaran Ajang Musik Kebudayaan (AMUK). Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Pagelaran Ajang Musik Kebudayaan (AMUK). Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

Maupa.co -“Generasi eSA dikader untuk jadi seniman, bukan penghibur. Dikader untuk menjadi penggerak kebudayaan, bukan budak kebudayaan, dikader untuk memberi interupsi atas hegemoni terhadap kebudayaannya bukan untuk pengkonsumsi budaya asing yang menindas budayanya sendiri” ungkapan ini diutarakan Hamdan sebagai pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni budaya eSA (UKM SB eSA) melalui sebuah poster online yang tersebar di media Sosial Instagram Ukmsbesa.

Sebagaimana garda terdepan atas kelangsungan atau keberlanjutan seni dan budaya, mahasiswa menjadi regenerasi yang harus mendapat perhatian khusus untuk tetap bersinar dikanca kebudayaan. Unit kegiatan Mahasiswa ini telah mencetak beberapa generasi di salah satu intitusi yang terletak di Makassar yang bernama Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar.

Kali ini, UKM Seni budaya eSA mengadakan kegiatan di Kabupaten Gowa yang terletak sekolah sungai je’ne’berang, Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu. Menurut salah satu anggota UKM Seni Budaya eSA, pemilihan tempat diawali dengan ajang sinergitas antara instansi keamanan setempat dalam membangun sebuah ruang edukatif yang bergerak di wilayah Seni dan budaya. “kegiatan ini kedua kalinya dilangsungkan ditempat ini, dan yang punya tempat menyambut dengan baik kehadiran teman-teman”. Tutur Wildan.

Gambar 1 penetapan anggota tetap UKM SB eSA UIN Makassar. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Penetapan anggota tetap UKM SB eSA UIN Makassar. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

Upaya kaderisasi ini sebagai salah satu proses yang tergambar di setiap Unit Kegiatan Mahasiswa dalam menemukan bibit-bibit baru dalam bidangnya masing-masing, tidak terkecuali UKM seni budaya eSA. Pada akhirnya, setelah menemukan bibit-bibit yang sesuai, kembali dideklarasikan menjadi sebuah perhelatan sebagaimana mestinya. Menurut iwan, proses penyeleksian ini dilakukan selama 5 bulan yang diawali di bulan Juli 2020.  “proses kaderisasi ini dilakukan secara bertahap, awalnya sebagai biasa menjadi anggota penuh” ujar iwan mazkrib.

Sabtu 28 November 2020, UKM SB eSA menggelar sebuah pagelaran selamat datang untuk para peserta yang sebelumnya telah mengalami proses penyeleksian. Kegiatan ini sengaja dibuat oleh petinggi UKM SB eSA dengan tujuan memelihara potensi seni dan budaya “kebudayaan”. Rembuk kebudayaan Upaya ini sebagai salah satu langkah yang besar untuk lebih mengasah potensi yang dimiliki oleh generasi milenial.

“Kami berharap ini sebagai salah satu langkah yang besar untuk Sanggar UKM SB eSA, kedepannya untuk mengembangkan lagi apresiasi kebudayaan” ujar iwan Mazkrib, selaku ketua umum UKM SB eSA.

Pagelaran dengan tema Ajang Musik Kebudayaan ini sengaja dilakukan untuk generasi UKM SB eSA untuk melakukan ekspresi.

Pagelaran berlangsung sangat apik, hal ini terlihat dengan beberapa calon anggota tetap membawakan potensi yang dimiliki oleh masing-masing anggota sekaligus ditetapkan sebagai anggota tetap UKM SB eSA. Pagelaran tersebut terdiri dari pagelaran musik akustik dengan membawakan lagu-lagu masa kini. Pada pagelaran ini, UKM SB eSA mengundang beberapa musisi lokal yakni Dammu Cinna, Sanggar Seni Kalegowa Art dan Bunyi Zaman.

bunyi Zaman pada Pagelaran AMUK. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co
Bunyi Zaman pada pagelaran AMUK. Foto: Ahmad Ishak Jundana/maupa.co

Dammu Cinna membawakan sebuah lagu cover dari Alm. Anci Laricci’ sementara Sanggar Kalegowa Art membawakan sajian Rampak Gendang Makassar dengan membawakan beberapa tunrung gandrang (tabuhan gendang) secara bersama-sama. Serta Kelompok Bunyi Zaman yang membawakan musik ilustratif. “bunyi zaman dapat mewakili kelestarian budaya hari-hari ini, sehingga kami mengundang dalam pagelaran AMUK sebagai rangkaian acara”, Tuturnya.

Berdasarkan pagelaran ini, kita dapat kembali melakukan refleksi untuk selalu mengasah potensi-potensi dari regenerasi sebagai sebuah cerita. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu akademis Quraish Matta, “Kebudayaan itu dirembukkan atau tidak dirembukkan, akan rembuk dengan sendirinya, persoalannya adalah apakah kita yang menceritakan atau diceritakan”. Karena itu, melalui pagelaran ini dapat menjadi sebuah stimulasi kepada kita semua untuk mengenal dan melakukan beberapa terobosan yang sesuai dengan pemikiran yang semakin hari semakin mengalami pembaharuan. Namun, sejatinya kita perlu memahami dasar potensi yang dimiliki.

Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan

Ahmad Ishak Jundana

Ahmad Ishak Jundana

Menulis untuk sebuah realitas dengan ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *