Virus Corona Memaksa Manusia “Melek” Ekologi

Penulis: Muhammad Fauzy

Melek ekologi demi kehidupan berkelanjutan. Ilustrasi by Unsplash
Melek ekologi demi kehidupan berkelanjutan. Ilustrasi by Unsplash

Maupa.coKetika manusia sedang gencar-gencarnya berinvestasi untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya, hidup dengan segala kemewahan yang mereka dapatkan namun sontak tercengang seolah tertampar oleh perisitiwa yang sedang menjadi perbincangan hangat diseluruh dunia. Covid-19 atau Virus Corona adalah bukti nyata dampak peradaban manusia yang mayoritas hanya memikirkan kepada aspek ekonomi semata.

Ada beberapa pendapat yang muncul dipermukaan terkait virus yang telah mewabah secara masif ini. Mulai dari keseimbangan ekologi, hingga teori konspirasi bak bubuk mesiu yang ditaburkan dari hasil pertikaian antar negara. Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Cina di akun twitternya secara terang-terangan memberikan tuduhan bahwa Amerika Serikat lah yang membawa virus ganas itu masuk ke wilayah negeri tirai bambu. Namun klaim yang dilontarkan ini tidak memberikan sejumlah data yang bisa dijelaskan.

Seperti yang diketahui, Cina dan Amerika adalah dua kubu yang saling berlawanan. Mulai dari perang dagang, hingga persenjataan nuklir yang dimiliki masing-masing negara adidaya ini. Perselisihan ini timbul akibat pandangan ekonomi dan politik, tapi tidak memperhitungkan dampaknya bagi negara lain. Virus corona digadang-gadang menjadi buah hasil pertikaian itu dan berhasil menginfeksi banyak negara.

Virus corona Akibat Ketidakseimbangan Ekologi

Selanjutnya ialah keterkaitan virus corona dengan keseimbangan ekologi. Virus corona diketahui disebabkan oleh hewan, mulai dari kontak langsung dengan manusia hingga tingkat konsumsi hewan liar yang tinggi di pasar Cina. Kala itu sedang populernya makanan berbahan dasar hewan liar yang dijual bebas di pasar Cina karena dianggap menjadi obat yang sangat mujarab bagi tubuh.

Dikutip dari Quantamagazine.org, hewan babi yang memiliki asam sialat memungkinkan virus manusia dan burung dapat tercampur dan menghasilkan virus baru bagi manusia. Quantamagazine.org juga mencatat bahwa virus SARS-Cov, MERS-Cov dan Sars-Cov 2 tampaknya berasal dari hewan. Trenggiling menjadi salah satu hewan perantara dari virus corona dan tingkat konsumsi hewan ini dipasar Cina sangatlah tinggi.

Ekploitasi manusia untuk memuaskan hasratnya demi mendapatkan tubuh yang ideal dan sehat sudah tidak masuk akal lagi. Habitat hewan yang dirusak, populasi hewan yang dilindungi kian berkurang secara signifikan memaksa hewan untuk kontak langsung dan berinteraksi dengan manusia. Hal ini lagi-lagi menepis teori keberlanjutan, perkembangan industri yang melonjak tanpa memperhatikan aspek keseimbangan ekologi juga menyumbang dampak buruk bagi kehidupan manusia.

Dibalik Virus Corona, Tanpa Disadari Polusi Udara Jadi Ancaman Serius

Baru-baru ini NASA merilis penurunan polusi udara di Cina akibat dari pandemi virus corona. Seakan virus ini menunjukkan bahwa perilaku manusia terhadap bumi sangatlah buruk. Dari satelit pemantauan polusi, NASA mengidentifikasi konsentrasi nitrogen dioksida udara berasal dari pembakaran bahan bakar terutama mobil, truk, bus dan pembangkit listrik. NASA juga menganggap bahwa peristiwa ini terjadi karena pelambatan ekonomi per tanggal 1-20 Januari, dan 10-25 Februari.

Polusi udara di Cina dari satelit NASA. Foto by NASA
Polusi udara di Cina dari satelit NASA. Foto by NASA

Sementara itu, para ilmuwan dari Pusat Penelitian Kardiovaskular Jerman menemukan kualitas udara buruk mengurangi harapan hidup global hingga tiga tahun. Banyak dari kematian dini bisa dikaitkan dengan polusi pembakaran bahan bakar fosil. 5,5 dari 8 juta kasus kematian tahunan terkait kualitas udara buruk dapat dihindari setiap tahunnya andai saja polusi buatan manusia bisa dikurangi. Ilmuwan menemukan harapan hidup global akan meningkat sekitar satu tahun jika pembakaran bahan bakar fosil dihentikan.

Baca juga: Hutan Indonesia, Korban Keserakahan Manusia dalam Hari Hutan Internasional

Seorang penulis dari Max Planck Institute for Chemistry kepada The Guardian, Jos Levieveld mengatakan bahwa polusi udara menjadi pembunuh tertinggi manusia bahkan lebih tinggi dari bahaya merokok.

“Pengurangan angka harapan hidup akibat polusi udara lebih tinggi daripada faktor lainnya dan bahkan lebih tinggi dari merokok”ungkap Jos Levieveld dikutip The Guardian.

Dibalik pernyataan itu, Marshall Burke dari Stanford University berpendapat dalam laman  Science Alert penurunan polusi udara dapat menyelamatkan manusia dari kematian dini secara perlahan-lahan. Burke juga menyebutkan bahwa udara kotor yang dihirup oleh manusia berkontribusi besar pada kematian dini.

Baca juga: “Suaka Laut Terancam!” Greenpeace Dorong Pemerintah Aktif Dalam Perjanjian Laut Internasional”

Global Food, Environment and Economic Dynamic (G-FEED) menjelaskan bahwa penurunan kematian paling berpengaruh adalah pada anak di bawah 5 tahun (Balita) dan orang dewasa diatas 65 tahun. Apabila terjadi peningkatan polutan PM 2.5 sebesar 1ug/m3, kematian anak di bawah 5 tahun meningkat sebesar 2,9 persen dan untuk lansia meningkat sebesar 1,4 persen. Tidak hanya di Cina, Lockdown di Italia juga mengakibatkan penurunan emisi nitrogen dioksida, jelas Calus Zehner di laman New Atlas

Pertanyaan selanjutnya apakah para pemimpin negara bisa belajar dari kasus pandemi Corona ini, setelah melihat apa yang telah terjadi terhadap ekologi dan kehidupan berkelanjutan. Apakah para pemimpin negara khususnya negara adidaya akan tetap mendorong industrialisasi yang terus mengancam bumi atau sebaliknya dengan memberlakukan kebijakan pertumbuhan hijau yang lestari?

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *