Waspada, Makassar Akan Banjir Lagi! Ini Prediksi WALHI Sulsel

Penulis: Muhammad Fauzy, Kiky Susanti

Konferensi pers catatan akhir Tahun degradasi lingkungan dan bencana ekologis 2019 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sulawesi Selatan ( Walhi Sulsel). Foto by Fauzy/maupa.co
Konferensi pers catatan akhir tahun degradasi lingkungan dan bencana ekologis tahun 2019 oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sulawesi Selatan ( Walhi Sulsel). Foto by Fauzy/maupa.co

Peristiwa meluapnya sungai Jeneberang membuat Kota Makassar mengalami banjir pada awal tahun 2019.

maupa.co – Awal tahun 2019, warga Kota Makassar terkena dampak meluapnya sungai Jeneberang hingga ke pemukiman. Akibatnya kepada aktifitas keseharian masyarakat terganggu. Sebahagian masyarakat mengaitkan peristiwa itu dengan hal di luar nalar. Karena, warga Kota Makassar telah lama tidak menjumpai peristiwa semacam itu.

Ketika itu, bendungan Bilibili menghantui warga sekitar karena tingginya curah hujan menyebabkan air permukaan bendungan meningkat.

Banjir memang menjadi momok bagi beberapa kota besar di Indonesia. Banyak yang menjadi faktor penyebabnya, mulai dari faktor alam (hidrologi) hingga ulah manusia memperburuk drainase serta kurangnya daerah resapan.

Makassar adalah kota yang gencar melaksanakan pembangunan. Namun pelaksanaan pembangunan tak sejalan dengan kualitas lingkungan. Pembangunan yang relatif begitu pesat, memakan banyak biaya hingga akhirnya mengurangi ruang terbuka hijau serta memangkas daerah resapan potensial. Jika ruang terbuka hijau dan resapan potensial semakin berkurang maka potensi banjir semakin tinggi.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Selatan (Walhi Sulsel), Muhammad Al Amin memprediksi bahwa Makassar berpotensi terkena banjir lagi di awal tahun berikutnya. Prediksi tersebut didukung oleh fakta bahwa luas daerah resapan dan ruang terbuka hijau Kota Makassar sangat minim sehingga air sulit menyerap ke dalam tanah. Pernyataan ini disampaikan Al Amin dalam konferensi pers pada Selasa (31/12/2019).

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sulawesi Selatan. Muhammad Al Amin. Foto by: Fauzy/maupa.co
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sulawesi Selatan. Muhammad Al Amin, Dalam konferensi pers. Foto by: Fauzy/maupa.co

“Saat ini, lahan terbangun di Kota Makassar mencapai  11.432,55 Ha atau 65 %  dari luas Kota Makassar. Sedangkan luas ruang terbuka hijau di Kota Makassar hanya 9,1 %,” ucap Al Amin.

Hal ini berarti, hanya terdapat 35% luas lahan di Kota Makassar yang tidak terjamak oleh pembangunan yang identik dengan beton dan aspal, sehingga air sulit meresap.

Banjir Sungai Jeneberang yang lalu juga disebabkan karena hutan atau pepohonan sekitar sungai Jeneberang semakin berkurang. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang buruk mengakibatkan air langsung mengalir ke Sungai.

DAS merupakan daerah aliran sungai, yang harusnya menjadi penyuplai air ke hutan. Seharusnya, air meresap ke tanah sebagai ground water untuk kebutuhan pepohonan. Namun, kurangnya tanaman dan pepohohonan membuat air langsung mengalir ke sungai dan menambah ketinggian air sehingga meluap.

Baca juga: Reklamasi, “Petaka” Nelayan dan Ekosistem Laut Takalar-Makassar

“Saya kira yang paling ironi adalah DAS yang menghidupi 3 juta penduduk Makassar berada pada kondisi yang sangat kritis hanya 16% hutan yang ada di Jeneberang. Sejauh ini 73 % DAS Sulsel mengalami kondisi yang sangat kritis. Kalau curah hujan yang tinggi bulan Januari-Februari maka prediksi kami akan terjadi lagi banjir yang serupa,” jelas Al Amin.

Yang lebih ironis, Walhi Sulsel menduga bahwa ada unsur pengabaian dari pemerintah terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi. “Sampai tahun 2019 kami tidak melihat atau membaca sedikitpun informasi bahwa pemerintah Kabupaten Gowa melakukan upaya yang serius terhadap pemulihan hutan atau DAS Sungai Jeneberang. Kami menduga ada pembiaran terhadap pemulihan DAS Jeneberang,” kunci Muhammad Al Amin.

 

 

Follow us

maupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *